Penipuan Jamaah Umroh

Penipuan Jamaah Umroh

Bandung – Tiga orang terdakwa kasus penipuan berkedok PT Panda Harum Sakinah (PHS) agen travel umrah dan haji menjalani sidang perdananya di Pengadilan Negeri Bandung, Kamis (20/10/2016). Mereka didakwa telah menggelapkan 149 jamaah dengan nilai mencapai Rp 1,2 miliar.

Sidang perdana dipimpin oleh hakim ketua Fuad Muhamadi serta dua anggotanya Rukhman Hadi dan Muhammad Basir. Sementara ketiga terdakwa yakni Euis Widaningsih, Ulfah Saeba Nur dan Swi Supriyono Hidayat duduk di kursi pesakitan sambil mendengarkan dakwaan yang dibacakan JPU.

Dalam berkas dakwaan yang dibacakan oleh JPU, ketiga terdakwa telah melakukan tindakan penipuan menarik uang senilai Rp 7,5 juta dari para korban dengan iming-iming akan diberangkatkan umrah oleh PT PHS melalui program Tabarru.

Program Tabarru memiliki konsep multilevel marketing. Setiap peserta memungkinkan para jamaah bisa berangkat umrah dengan cara dicicil atau sistem gotong royong. Artinya, setiap peserta bisa mengajak jamaah lain untuk sama-sama membantu pemberangkatan.

Dalam kasus ini, Euis Widaningsih berperan sebagai koordinator para peserta yang ingin mengikuti program Tabarru. Setiap peserta yang melakukan pembayaraan dengan cara mencicil, akan disetorkan kepada Ulfah Saeba Nur selaku Marketing PT PHS. Sementara Dwi Supriyono merupakan Direktur Support Sistem Tabarru.

“Mereka menjanjikan para jamaah bisa berangkat dalam waktu tiga tahun dengan cara mencicil sejak tahun 2013 lalu,” kata JPU Billy dalam persidangan.

Setelah semua jamaah sudah lunas menyetorkan uang Rp 7,5 juta selama tiga tahun, PT PHS tak kunjung memberangkatkan para jamaah. Tanpa alasan yang jelas, uang para jamaah juga tidak bisa dikembalikan saat ditagih kembali.

“Awal-awal PT PHS menjanjikan uang akan kembali kalau tidak jadi berangkat. Tapi saat itu ditagih mereka tidak mengembalikan uang tersebut,” tutur dia.

Para jamaah yang tertipu berjumlah 149 orang yang berasal dari Bandung, Bogor dan Makassar. Sementara uang milik para jamaah yang digelapkan oleh para terdakwa yaitu sebesar Rp 1,2 miliar.
Akibat perbuatannya, para terdakwa melanggar pasal 378 jo 55 dan pasal 72 jo 55 tentang penipuan dan penggelapan.

Sementara itu Kuasa Hukum Euis, Dadanf Sukmawijaya menyatakan keberatan dengan isi berkas dakwaan.
yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang perdana kasus penipuan berkedok agen travel umrah dan haji di Pengadilan Negeri Bandung. “Kalau berperan sebagai koordinator memang benar. Jadi klien saya yang mengajak orang-orang untuk menjadi peserta program Tabarru,” kata dia usai persidangan.

Meskipun berperan sebagai koordinator peserta, kata dia, Dadang menyebut kliennya tidak terikat apapun dengan PT PHS. Artinya, Euis bukan merupakan karyawan ataupun anggota dari PT PHS yang berlokasi di Jakarta Utara tersebut.

Menurutnya, kliennya hanya ingin membantu para peserta yang tidak mampu namun ingin menunaikan ibadah umrah melalui PT PHS. Mengingat program Tabarru memungkinkan jamaah berangkat umrah hanya dengan mengeluarkan uang senilai Rp 7,5 juta dengan cara dicicil.

“Klien saya (Euis) sama sekali tidak menggunakan uang jamaah. Semua uang yang dicicil para peserta sudah di setorkan ke PT PHS,” jelas dia.

Dadang mengaku sudah mengajukan eksepsi kepada pimpinan sidang yakni hakim ketua Fuad Muhamadi serta dua anggota Rukhman Hadi dan Muhammad Basir. Sementara dua terdakwa lainnya Ulfah Saeba Nur (Marketing PT PHS) dan Dwi Supriyono (Direktur PT PHS) menyatakan menerima.

“Pekan depan sidang lanjutannya pembacaan eksepsi klien saya (Euis),” kata dia.

Seperti diketahui, para korban melaporkan kasus penipuan tersebut pada 21 September 2015 lalu ke Polda Jawa Barat. Sementara kantor PT PHS berada di Wisma Derek Suci Kavling Dua, Susukan Ciracas, Kampung Rambutan, Jakarta Timur.
(ern/err)- detiknews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp Kami
%d bloggers like this: